Pasti semua tahu tentang berita seorang laki-laki yang mencuri ponsel dan ketahuan, kemudian pada sesi intrograsi dia akhirnya mengakui kesalahannya. Namun, kalimat yang diucapkan dalam pengakuan tidak semestinya begitu, dia berkata “Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu, mohon maaf kejadian soal hape ini, saya tidak sengaja dan saya tidak ada niat sekalipun untuk membawa hape ini, karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, wajarlah manusia, bukan Nabi boy !!!”
Ya, tentu hal yang paling sering terjadi ketika seseorang melakukan kesalahan adalah membela kesalahannya, bahkan jika itu dilakukan oleh pemimpin atau orang terpandang, para pendukungnya akan ikut serta membela kesalahan tersebut.
Penulis teringat suatu ungkapan yang senantiasa digunakan untuk membela kesalahan, kebanyakan orang menganggap ungkapan ini sebagai hadits, namun ungkapan ini belum bisa dipastikan hadits atau bukannya. yaitu :
الْاِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَاءُ وَ النِّسْيَانُ
“manusia tempatnya salah dan lupa”
Penulis berandai-andai kalau ungkapan diatas adalah sebuah hadits, maka dalam bayayangan penulis muncul sebuah gambaran berapa orang yang akan menggunkan ungkapan diatas -yang diasumsikan sebagai hadits- untuk membela kesalahan, seakan-akan kesalahan juga dibela oleh Nabi.
Padahal tidak demikian, seandainya memang ungkapan itu adalah hadits ataupun bukan, ungkapan diatas merupakan dorongan untuk kita memakai dua kacamata ini :
1. Ungkapan diatas jika diaplikasikan untuk kita, maka fungsinya adalah untuk mengingatkan kita supaya untuk intropeksi diri. melakukan kesalahan ataupun membela kesalahan jelas tidak ada perintahnya dalam islam. penulis teringat salah satu kisah Syeikh Abdul Qodir Al-Jilani, ketika beliau sedang melakukan sholat tiba-tiba ada cahaya yang mendatanginya. Cahaya tersebut berkata kepada Syeikh Abdul Qodir : “Wahai Abdul Qodir, Aku adalah tuhanmu ! mulai saat ini apa yang haram menjadi halal untukmu”. Namun, Syeikh Abdul Qodir tahu bahwa islam tidak pernah melegalkan hal-hal buruk. Syeikh Abdul Qodir kemudian membaca ta’awudz setelah itu beliau menjawab “pergilah syeitan yang dilaknat !” . hal ini sesuai dengan kandungan Al-Qur’an bahwa Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk melakukan hal buruk. Sudah seharusnya kita menjaga diri kita dari melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama. Allah SWT berfirman :
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
innallāha ya`muru bil-‘adli wal-iḥsāni wa ītā`i żil-qurbā wa yan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkari wal-bagyi ya’iẓukum la’allakum tażakkarụn
Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. [An-Nahl : 90]
وَاِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً قَالُوْا وَجَدْنَا عَلَيْهَآ اٰبَاۤءَنَا وَاللّٰهُ اَمَرَنَا بِهَاۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِۗ اَتَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iżā fa’alụ fāḥisyatang qālụ wajadnā ‘alaihā ābā`anā wallāhu amaranā bihā, qul innallāha lā ya`muru bil-faḥsyā`, a taqụlụna ‘alallāhi mā lā ta’lamụn
Artinya : Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh berbuat keji. Mengapa kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?”
2. Ungkapan diatas jika diaplikasikan untuk orang lain, maka kita harus memaklumi jika ada orang lain yang melakukan kesalahan, juga menasihatinya dan mengajaknya untuk melakukan hal-hal yang benar, tidak kemudian membencinya. Rosululloh SAW bersabda :
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
“Agama Adalah Nasihat”
Allah SWT berfirman :
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma’rụfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu`minụna billāh, walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik
Ketika kita melakukan kesalahan, hendaknya kita mengakui, meminta maaf, bertaubat, memohon ampunan Allah, dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi, bukan membela kesalahan. dan ketika orang lain melakukan kesalahan maka tugas kita adalah menasihatinya dan mengingatkannya untuk istighfar dan bertaubat serta kembali melakukan hal-hal yang baik dan benar.
Qur'anic Enthusiast | FrontEnd & BeckEnd Enthusiast | SantriPreunur | LampungDev | ISciTech
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !