160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Informasi

FITNAH YANG MENGGUNCANG MADINAH: KISAH AISYAH RA. DAN FITNAH YANG MENIMPANYA

750 x 100 AD PLACEMENT

Kisah Fitnah terhadap Aisyah Radhiallahu ‘anha (Peristiwa Ifk)

Pada suatu ketika, Rasulullah hendak melakukan perjalanan untuk suatu peperangan. Seperti biasa, beliau mengundi nama istri-istrinya untuk menentukan siapa yang akan ikut. Kali ini, nama Aisyah radhiallahu ‘anha yang terpilih, sehingga ia ikut dalam perjalanan itu.

Setelah peperangan selesai, rombongan Rasulullah bersiap kembali ke Madinah. Saat mereka beristirahat di perjalanan, Aisyah keluar dari tandunya (sekedup, tempat duduk tertutup di atas unta) untuk suatu keperluan. Saat kembali, ia menyadari bahwa kalungnya hilang, lalu pergi mencarinya.

Sementara itu, pasukan yang bertugas mengangkat tandunya mengira Aisyah sudah berada di dalamnya, karena ia memang ringan dan tandunya tertutup. Mereka pun melanjutkan perjalanan tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal.

750 x 100 AD PLACEMENT

Ketika Aisyah kembali, pasukan telah pergi. Ia pun tetap di tempat dengan harapan mereka akan menyadari kehilangannya dan kembali menjemputnya. Dalam keadaan menunggu, ia tertidur.

Tak lama kemudian, seorang sahabat bernama Shofwan bin Mu’aththol datang dari arah belakang rombongan. Ia mengenali Aisyah karena pernah melihatnya sebelum turun perintah hijab. Ketika melihatnya tertidur sendirian, Shofwan terkejut dan langsung berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Suara itu membangunkan Aisyah.

Tanpa berbicara sepatah kata pun, Shofwan mendekatkan untanya agar Aisyah bisa naik, lalu ia menuntun unta itu menuju rombongan Rasulullah .

Ketika mereka sampai di Madinah, orang-orang munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul mulai menyebarkan fitnah bahwa Aisyah berselingkuh dengan Shofwan. Berita ini menyebar luas, dan sebagian orang mulai terpengaruh.

750 x 100 AD PLACEMENT

Aisyah Mengetahui Fitnah Ini

Saat berita fitnah ini tersebar, Aisyah tidak mengetahuinya karena ia sedang sakit selama satu bulan. Namun, ia merasa ada yang berbeda dari sikap Rasulullah . Biasanya, jika Aisyah sakit, beliau akan menunjukkan kasih sayang. Tetapi kali ini, beliau hanya datang, bertanya kabarnya, lalu pergi.

Aisyah baru mengetahui berita ini ketika sedang berjalan keluar bersama Ummu Misthah, kerabatnya. Ketika Ummu Misthah tersandung, ia mengumpat, “Celakalah Misthah!”

Aisyah terkejut dan menegurnya, karena Misthah adalah seorang sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Namun, Ummu Misthah lalu berkata, “Apakah engkau belum mendengar apa yang orang-orang katakan tentang dirimu?”

750 x 100 AD PLACEMENT

Saat itu, Aisyah baru sadar bahwa ada fitnah yang tersebar tentang dirinya. Ia pun pulang ke rumah dalam keadaan sangat sedih dan meminta izin kepada Rasulullah untuk tinggal di rumah orang tuanya.

Musyawarah dan Turunnya Wahyu

Sementara itu, Rasulullah belum menerima wahyu tentang peristiwa ini. Beliau bermusyawarah dengan Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid.

Usamah membela Aisyah dan mengatakan bahwa ia selalu melihat kebaikan dalam keluarga Rasulullah .

Ali bin Abi Thalib menyarankan agar Rasulullah bertanya kepada pelayan Aisyah, Barirah, apakah ia melihat sesuatu yang mencurigakan.

Barirah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat keburukan pada Aisyah. Satu-satunya hal yang pernah terjadi hanyalah ia pernah tertidur saat menjaga adonan roti, lalu hewan peliharaan datang dan memakannya.”

Rasulullah lalu mengumpulkan para sahabat dan berbicara kepada mereka:

“Siapakah yang akan membelaku dari orang yang telah menyakiti keluargaku?”

Sahabat Sa’ad bin Mu’adz berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika orang yang menyebarkan fitnah ini dari suku kami, aku sendiri yang akan membunuhnya!”

Namun, seorang pemimpin dari suku lain tersinggung dan terjadi ketegangan di antara kaum Muslimin. Rasulullah pun segera menenangkan mereka.

Sementara itu, Aisyah sangat terpukul. Ia menangis siang dan malam hingga tidak bisa tidur dan merasa seperti hatinya akan hancur.

Pada suatu hari, Rasulullah datang kepadanya dan berkata, “Jika engkau memang tidak bersalah, Allah pasti akan membelamu. Tetapi jika engkau bersalah, maka bertaubatlah, karena Allah Maha Pengampun.”

Mendengar ini, Aisyah merasa sangat sedih. Ia meminta orang tuanya untuk menjawab Rasulullah , tetapi mereka tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya, Aisyah sendiri yang berbicara:

“Jika aku mengaku bersalah, padahal aku tidak bersalah, kalian pasti akan percaya. Tetapi jika aku mengatakan yang sebenarnya, kalian tidak akan percaya. Maka aku hanya bisa berkata seperti yang dikatakan oleh ayah Nabi Yusuf, ‘Sabar itu lebih baik, dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.’”

Kemudian, Aisyah masuk ke kamarnya dengan penuh harapan agar Allah membelanya.

Allah Membela Aisyah

Tidak lama setelah itu, wahyu turun kepada Rasulullah . Ketika wahyu datang, Rasulullah selalu mengalami keringat bercucuran karena beratnya wahyu tersebut. Setelah wahyu selesai turun, Rasulullah tersenyum dan berkata kepada Aisyah:

“Wahai Aisyah, bergembiralah. Allah telah membelamu!”

Aisyah sangat gembira. Ibunya menyuruhnya berdiri untuk menemui Rasulullah , tetapi ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berdiri untuk siapa pun selain Allah!”

Allah telah menurunkan ayat dalam QS. An-Nur ayat 11-22, yang menegaskan bahwa tuduhan terhadap Aisyah adalah fitnah dan Allah menjadikannya sebagai ujian bagi kaum Muslimin.

Dampak Setelahnya

Abu Bakar, ayah Aisyah, sebelumnya selalu membantu Misthah bin Utsatsah dengan nafkah. Namun, karena Misthah ikut menyebarkan fitnah, Abu Bakar bersumpah tidak akan membantunya lagi.

Lalu Allah menurunkan ayat QS. An-Nur 22, yang menganjurkan untuk memaafkan dan tidak memutuskan bantuan kepada orang-orang beriman. Setelah mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, “Aku ingin Allah mengampuniku.” Lalu ia tetap membantu Misthah seperti sebelumnya.

Zainab binti Jahsy, istri Rasulullah yang sebelumnya memiliki persaingan dengan Aisyah, tetap berkata jujur bahwa ia tidak pernah melihat keburukan pada Aisyah.

 

Demikianlah kisah ini, yang menjadi pelajaran besar bagi umat Islam tentang pentingnya menjaga lisan dan tidak mudah terpengaruh oleh fitnah.

Penulis: Nurfadhli Hasan II Kontributor Tulisan

750 x 100 AD PLACEMENT

Admin Semoga Bermanfaat - Berarti dan Memberi Makna

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT
Ingin Usaha Undangan Digital ?

Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !