Masih seputar nuansa hari raya yang merupakan bagian dari moment spektakuler dengan banyaknya agenda, tradisi maupun budaya kebaikan yang tertuang didalamnya, mulai dari semarak lantunan takbiran, shalat Ied berjamaah, saling berbagi hidangan khas lebaran, hingga menunaikan zakat fitrah yang menjadi penyempurna ibadah Ramadhan. Namun, di antara semua tradisi tersebut, terdapat salah satu yang paling erat dan khas dengan esensi pelaksanaan sebuah hari raya yakni silaturahmi untuk saling bermaaf-maafan.
Sebuah budaya silaturahmi di Hari Raya sudah seharusnya menjadi jembatan untuk kembali merekatkan hubungan yang mungkin sempat renggang, menghapus luka-luka lama, serta menghadirkan senyum dan ketulusan dalam setiap pertemuan. Kunjungan ke rumah sanak keluarga, sahabat, teman sebaya, tetangga, hingga guru yang pernah mendidik kita selama kita menimba ilmu padanya. Itu semua merupakan wujud nyata dari ajaran Islam tentang pentingnya menjaga hubungan baik sesama manusia.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
وعن جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ” يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Jubair bin Muth’im Radiyallāhu anhu ia berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.”
Dalam hadist shahih lain juga disebutkan tentang keistimewaan bersilaturahmi
عَن ابْن شهاب أَخْبَرَنٍيْ أَنَس بْن مَالِك أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Diriwayatkan dari Ibnu Sihab (dimana) telah menginformasikan padaku Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan (sisa) umurnya, maka sambunglah (tali) kerabatnya. (HR. Bukhari)
Cuplikan Hadits² diatas menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari ibadah yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT .
Namun, di tengah kehangatan silaturahmi yang seharusnya membawa kebahagiaan, tak jarang momen ini justru diwarnai dengan hal-hal yang berlawanan dengan esensinya, seperti pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, perbandingan yang menimbulkan perasaan minder, hingga adu gengsi yang membuat suasana menjadi tidak nyaman kerap kali terjadi tanpa disadari.
Fenomena fenomena ini biasanya sering terjadi dalam berbagai tuangan kalimat, diantaranya;
❓Kok anaknya masih satu? Kapan nambah?” Pertanyaan yang mungkin bisa menyakiti pasangan yang mungkin sedang berjuang dalam rumah tangga.
❓Kapan menikah?” Pertanyaan yang mungkin bisa menyudutkan mereka yang masih menanti jodoh.
❓Kerjanya di mana sekarang? Gajinya berapa?” Pertanyaan yang sering menimbulkan rasa tidak nyaman, apalagi jika dibandingkan dengan orang lain.
❓Kenapa belum lulus kuliah? Kok nggak cepat kerja?” Pertanyaan yang seolah merendahkan perjuangan seseorang dalam pendidikan dan kariernya.
Terkadang hal hal semacam itu secara tidak langsung justru seolah-olah menjadikan silaturahmi bukan lagi soal merajut kasih, tetapi tentang membandingkan siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih cepat menikah, siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih “beruntung” dalam kehidupannya. Oleh karena hal ini sudah sepatutnya sebisa mungkin harus kita cegah dan hindari, terlebih di moment spesial hari raya yang semuanya berhak untuk bahagia.
Islam telah menekankan kepada kita dengan melimpahnya dalil dalil tentang anjuran untuk menjaga lisan dan berkata baik kepada sesama. Sebagaimana mengutip dalam potongan firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat 83 yang berbunyi :
وقولو للناس حسنا
Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.
Dalam hadits shahih riwayat Bukhori muslim juga dijelaskan
من كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.
Selain itu, dalam sebuah maqalah juga disebutkan melalui redaksinya yang berbunyi;
سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
Keselamatan manusia itu tergantung pada keterjagaan lidahnya.
Saudaraku…
Setiap kata yang keluar dari lisan kita seharusnya mengandung kebaikan. Sikap saling membandingkan, menyombongkan, pertanyaan maupun pernyataan yang mengandung unsur menyudutkan, atau menyakiti perasaan orang dalam sebuah obrolan justru akan mengurangi nilai keberkahan dalam silaturahmi. Lalu…Apa gunanya merayakan kemenangan, jika dalam hati masih tersimpan kesombongan? Semoga dapat menjadi sebuah renungan!
Saudarakuu…
Mari jadikan silaturahmi sebagai sarana untuk menyebarkan kebahagiaan, bukan ajang adu gengsi. Mari kita berusaha menjaga hati dan perasaan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sebab, dalam setiap senyum yang kita berikan, dalam setiap ucapan yang menenangkan, dan dalam setiap doa yang kita panjatkan untuk saudara kita, di situlah keberkahan sejati terletak.
Maka, mari kita pergunakan lisan ini untuk menyebarkan kasih sayang, bukan untuk menyakiti. Mari kita juga jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk kembali pada fitrah, menjadi pribadi yang lebih baik, dan menjalani hidup dengan penuh keikhlasan. Sebab, kemenangan sejati adalah ketika kita bisa menjaga hati, menjaga lisan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Penulis: Rifki Mustofa (Kontributor)
Admin Semoga Bermanfaat - Berarti dan Memberi Makna
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !