Tok-tok-tok… tok-tok-tok…
Suara derap langkah kaki kecil menghampiri dari kejauhan. Tak lama kemudian, muncul sosok mungil dengan wajah cerah berbinar dan senyum yang mengembang sempurna. Dialah Mas Najid. Setiap kali memandangnya, aku seperti melihat cermin masa kecilku sendiri: penuh rasa ingin tahu, ramah, dan tak pernah kehabisan energi untuk bermain.
“Mas Hasan dari mana saja? Aku cari ke kamar pondok tadi tidak ada,” tanyanya polos dengan napas yang sedikit terengah. “Ada, Mas Najid… jawabku lembut menyambutnya.
Rupanya, Sabtu pagi itu ia sengaja mencariku hingga menyusul ke masjid. Biasanya Mas Najid bermain bersama teman-teman sebayanya, tetapi pagi ini mereka sedang ada jam les. Pagi itu begitu cerah, secerah binar di matanya. Jika biasanya aku hanya mengajaknya jalan-jalan santai di sekitar kompleks perumahan, kali ini aku ingin membawanya ke tempat yang sedikit berbeda.
“Mas Hasan, ayo main!” ajaknya antusias. “Oke, Mas Najid. Hari ini Mas Hasan ajak kamu ke tempat yang asyiiik, ya.” Sebelum berangkat, aku menyiapkan bekal dan tidak lupa memasukkan botol berisi makanan kucing ke dalam bagasi motor. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit berkendara, sampailah kami di destinasi tujuan: Taman Merjosari.
Angin pagi berembus segar menyapu pepohonan taman. Langkah kami terhenti di area tempat alat-alat olahraga di samping taman. Meski beberapa fasilitasnya tampak usang, catnya mulai terkelupas, dan ada bagian yang sedikit rusak dan hilang, masyarakat sekitar tetap memanfaatkannya dengan antusias.
Melihat pemandangan itu, benakku bergumam: Olahraga menurutku adalah cara memperpanjang durasi hidup, Seseorang yang rutin menjaga fisiknya sejatinya sedang mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta yang telah menitipkan jiwa dan raga.
Aku mengajak Mas Najid mencoba beberapa alat. Otot-otot kecilnya bekerja keras memutar dan menarik tuas, diselingi tawa renyah yang menggelegar tiap kali ia berhasil menaklukkan satu alat. Di tengah keasyikannya bergerak, mata berbinarnya tiba-tiba tertuju pada semak-semak.
“Mas Hasan, lihat! Di sini banyak kucing!” serunya gembira sambil menunjuk ke beberapa ekor kucing yang sedang selonjoran.
Sontak aku teringat bekal kucing dalam botol di motor.
“Iya, Mas Najid! Bagaimana kalau hari ini kita bertugas jadi petugas Sensus Penduduk Kucing? Kita hitung ada berapa banyak kucing di taman ini!”
Tanpa ragu, Mas Najid langsung berlari kecil mendekati kucing pertama. Ia berjongkok, mengajak kucing itu mengobrol dengan bahasa khas anak-anak yang menggemaskan. Aku mengikutinya dari belakang sambil menikmati udara pagi. Mas Najid begitu sibuk menjelajah—memeriksa balik bangku taman, kolam kering, hingga sudut-sudut pepohonan.
“Mas Hasan, totalnya ada 20 kucing! Ada yang oranye, hitam, belang-belang, ada yang masih bayi juga!” laporkannya bangga.
Satu per satu kucing dihamipirinya. Dari botol plastik kecil yang kupegang, aku menuangkan butiran makanan kering ke telapak tangannya. Dengan penuh kasih, Mas Najid menuangkan ke arah kucing yang datang. Kucing-kucing itu menyambutnya dengan dengkur halus dan tatapan penuh terima kasih. Di dalam hati, sebuah doa hangat meluncur:
“Ya Tuhan, makhluk-makhluk mungil yang tidak dibekali akal ini pun tak pernah Engkau luputkan dari rezeki-Mu. Berikanlah selalu kesehatan dan perlindungan untuk mereka…”
Konten Kreator Edukasi bahasa Arab dan ilmu keislaman. Penulis dan Reviewer Buku. Pengajar Private Al-Quran dan Bahasa Arab. Pembicara Seminar tema kesantrian, kepemimpinan, Masuk Kampus dan Keislaman.
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !