Bagi generasi milenial dan sebagian generasi Z, mungkin sudah tidak asing mendengar lagu “Tahun 2000” yang pertama kali rilis pada tahun 1982 dan mencapai puncak popularitasnya di dekade 90-an. Lagu ini merupakan karya visioner dari KH. Bukhari Masruri yang dipopulerkan oleh grup Nasida Ria. Dengan lirik yang menggambarkan semangat zaman dan prediksi masa depan, lagu ini menjadi karya yang relevan hingga saat ini. Meskipun diciptakan jauh sebelum era kecanggihan teknologi modern, lirik-liriknya seolah meramalkan perkembangan zaman, seperti salah satu bait terkenal:
Tahun dua ribu kerja serba mesin # Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin # Makan dan minum dilayani mesin
Saat ini, kita sudah bisa merasakan bagaimana bait-bait lagu tersebut terbukti nyata di kehidupan kita. Misal lirik “Manusia tidur berkawan mesin”, fenomena yang terjadi saat ini ketika tidur harus terlebih dahulu melihat film/tv, scrool medsos sampai tidak terasa tertidur. Kemudian lirik “Makan dan minum dilayani mesin”, terjadi saat ini ketika kita mengenal Vending Machine, Automated Kitchens yang dapat memasak tanpa bantuan manusia atau layanan pesan makan hanya dengan satu klik melalui aplikasi shoopefood, grabfood dll. Maka dunia ini berputar semakin cepat, teknologi yang dulu hanya sekedar angan sekarang bisa terwujud satu demi satu.
Di tengah dunia yang semakin cepat ternyata menuntut kita untuk bergerak lebih cepat dalam mengerjakan suatu hal. Setiap detik sangat berharga, dan kesempatan yang ada mungkin tidak datang kedua kali. Namun miris ketika muncul istilalah “Santai dlu kawan, besok juga masih bisa dikerjakan dll”, ungkapan yang mencerminkan sikap berleha-leha, hingga muncul sifat menunda-nuda hingga akhirnya tidak dikerjakan. Hal itulah yang sering terjadi ketika ada suatu pekerjaan atau tugas kemudian ditunda-tunda karena terlalu memanjakan nafsu/keinginan yang sementara.
Berbeda istilah “Alon-Alon Asal Kelakon” dan “Melambat-lambat Sampai Lupa untuk dikerjakan”, istilah “alon-alon asal kelakon” yaitu ketika suatu pekerjaan dikerjakan sedikit-demi sedikit dan dengan serius. Berbeda dengan istilah “Nanti aja, melambat-lambat”, suatu sikap menunda pekerjaan dan meremehkan suatu pekerjaan hingga akhirnya tidak dikerjakan. Siapa cepat, dia dapat, merupakan sikap yang perlu kita terapkan saat ini dalam berkarya dan menyelesaikan suatu tugas.
Islam membenci sifat menunda-nunda karena sifat tersebut berkaitan dengan waktu. Sampai Allah bersumpah tentang waktu dengan firmannya (QS. Al-Ashr:1-3), selain itu Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang keutamaan waktu dengan hadist yang berbumyi “Manfaatkan lima sebelum lima: masa muda sebelum datangnya tua, sehat sebelum datangnya sakit, kaya sebelum datangnya miskin, luang sebelum datangnya sibuk, dan hidup sebelum mati.” (HR. Ibn Abbas).
Jika nasi sudah menjadi bubur, ayam goreng sudah menjadi geprek, padi sudah menjadi beras, kesempatan yang datang saat ini tidak akan pernah terulang kembali kecuali datangnya rasa penyesalan atas sikap-sikap yang dahulu pernah diperbuat. Sebagai penutup “Dunia yang semakin cepat bergerak, diam berarti tertinggal, lambat berarti kehilangan. Jadilah orang yang sat set, jangan ragu, karena kesempatan tak akan menunggu.”
Konten Kreator Edukasi bahasa Arab dan ilmu keislaman. Penulis dan Reviewer Buku. Pengajar Private Al-Quran dan Bahasa Arab. Pembicara Seminar tema kesantrian, kepemimpinan, Masuk Kampus dan Keislaman.
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !