Ahad, 2 Maret 2025
“Penulis yang baik lahir dari pembaca yang baik, dan editor yang baik lahir dari penulis yang baik.” Ungkapan ini disampaikan oleh pemateri dalam acara Pelatihan Editing Naskah yang diselenggarakan oleh Komunitas Menulis Indonesia (KMI).
Pagi ini, saya berkesempatan menjadi moderator dalam kegiatan tersebut. Meskipun berada di tengah ibadah puasa Ramadhan, semangat untuk belajar tidak surut. Jika hati membutuhkan ketenangan melalui ibadah dzikir dan membaca Al-Qur’an, maka otak pun memerlukan asupan ilmu dan pengetahuan agar terus berkembang dan menjadikan kita pribadi yang ‘Aqil’ (berakal).

Peran Editor dalam Dunia Kepenulisan
Kak Ida Royani, seorang penulis produktif dengan lebih dari 20 buku, menjadi pemateri dalam pelatihan ini. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan di bidang Matematika, beliau memiliki pemahaman yang mendalam dalam dunia kepenulisan dan editing naskah.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perbedaan antara layout tulisan, editing naskah, dan proofreading. Banyak dari kita yang masih keliru dalam memahami ketiga istilah ini, padahal masing-masing memiliki peran yang berbeda:
Sebagai seorang penulis pemula, saya merasa sangat terbantu dengan materi yang disampaikan. Tidak hanya teori, tetapi juga ada contoh nyata dalam praktik editing naskah. Salah satu pernyataan menarik dari Kak Ida adalah:
“Seorang editor yang baik lahir dari seorang penulis yang baik.”
Mengapa demikian? Karena tugas utama editor adalah mengoreksi susunan kalimat dan memastikan penulisan yang benar. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi editor yang kompeten jika belum pernah menulis?
Sebaliknya, penulis yang baik juga lahir dari pembaca yang baik. Banyak orang ingin menjadi penulis hebat dan terkenal, tetapi tidak membiasakan diri untuk membaca. Padahal, tidak ada penulis yang tiba-tiba menghasilkan karya luar biasa tanpa melalui proses membaca yang tekun. Jika kita ingin menulis, kita harus memiliki wawasan yang luas agar tulisan kita tidak kosong dan tanpa makna.
Pentingnya Tanda Baca dan Kaidah Penulisan
Dalam sesi pelatihan ini, juga membahas pentingnya tanda baca dalam tulisan. Tanda baca seperti tanda tanya (?), tanda seru (!), dan tanda kutip (” “) sering kali diabaikan, padahal bisa mengubah makna sebuah kalimat. Misalnya:
“Besok pagi kita adakan bersih-bersih kamar.”
Kalimat ini bisa menimbulkan kebingungan. Apakah ini sebuah pernyataan atau pertanyaan? Jika maksudnya bertanya, maka seharusnya ditulis:
“Besok pagi kita adakan bersih-bersih kamar?”
Jika maksudnya adalah pemberitahuan, lebih baik ditulis:
“Besok pagi kita adakan bersih-bersih kamar!”
Selain tanda baca, pemateri juga menekankan kaidah penulisan yang sering keliru, salah satunya adalah perbedaan “dibalik” dan “di balik.”
Kesalahan kecil seperti ini bisa mengubah makna kalimat secara signifikan. Oleh karena itu, memahami tata bahasa dengan benar sangat penting bagi seorang penulis dan editor.
Menumbuhkan Kebiasaan Belajar
Dari pelatihan ini, saya menyadari bahwa bukan hanya tubuh yang memerlukan asupan makanan dan minuman, tetapi otak juga membutuhkan nutrisi berupa ilmu pengetahuan. Cara terbaik untuk terus berkembang adalah dengan membaca, menulis, dan belajar secara konsisten.
Sebagai penulis pemula, saya merasa beruntung bisa mengikuti pelatihan ini. Ilmu yang didapat sangat berharga dan menjadi bekal bagi saya untuk terus belajar dalam dunia kepenulisan. Jika ingin menjadi penulis atau editor yang baik, kita harus terus berlatih dan mengasah kemampuan kita. Karena, seperti yang dikatakan Kak Ida Royani:
“Menulis adalah keterampilan yang terus diasah, dan editing adalah seni untuk menyempurnakan karya.”
Konten Kreator Edukasi bahasa Arab dan ilmu keislaman. Penulis dan Reviewer Buku. Pengajar Private Al-Quran dan Bahasa Arab. Pembicara Seminar tema kesantrian, kepemimpinan, Masuk Kampus dan Keislaman.
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !