160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Informasi

Ketika Ayat dan Hadits Dipakai Membela Kelompok : Agama Jadi Alat, Bukan Petunjuk

750 x 100 AD PLACEMENT
Agama diturunkan bukan untuk menyulitkan, apalagi untuk saling menyerang. Wahyu dari langit turun agar manusia tahu jalan pulang ke Tuhan. Tapi apa jadinya jika ayat-ayat suci justru dijadikan alat pembenar? Bukan pembenar diri, tapi pembenar kelompok. Bukan untuk menyatukan, tapi untuk menyisihkan.
 
Ayat dikutip, tapi sepotong. Hadits disebut, tapi tanpa teliti. Semuanya disesuaikan dengan agenda. Padahal agama tidak turun untuk melayani kelompok, melainkan untuk membimbing semua.

Ayat Dipotong, Pesan Dibelokkan

Al-Qur’an tidak diturunkan hanya dalam satu potong kalimat. Setiap ayat punya konteks. Tapi sering kali ayat diambil hanya sebagian, lalu dibawa ke mana saja sesuai kepentingan.
Ada yang mengutip ayat tentang jihad, tapi lupa bahwa ayat itu turun dalam keadaan umat tertindas. Ada yang membaca ayat tentang larangan berteman dengan kaum tertentu, tapi tidak paham bahwa ayat itu turun dalam situasi perang, bukan damai.
 
يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ
“Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Mā’idah: 13)
 
Jika ayat sudah tidak lagi ditempatkan pada posisinya, maka kebenaran pun ikut bergeser. Bukan lagi yang sesuai kehendak Tuhan, tapi sesuai kehendak golongan.

Hadits Dipakai, Tapi Tidak Diperiksa

Banyak orang begitu semangat menyampaikan hadits. Tapi tidak semua hadits benar. Ada yang lemah, ada yang bahkan palsu. Parahnya, hadits seperti itu sering dipakai untuk menyerang kelompok lain, seolah Nabi ﷺ membela satu kelompok saja. Padahal Nabi ﷺ memberi peringatan keras :
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
 
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.”(HR. Bukhari dan Muslim)
 
Kalau hadits palsu disebarkan demi membela kelompok, itu bukan dakwah, tapi penyesatan.

Tafsir Sesuai Kepentingan

Kitab suci bisa ditafsirkan. Tapi tafsir bukan urusan sembarangan. Harus dengan ilmu, harus dengan hati yang jernih. Tapi sekarang, banyak tafsir lahir dari kepentingan. Ketika tafsir dilakukan bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk membenarkan kelompok, maka tidak lagi disebut ibadah. Yang terjadi adalah pengkhianatan terhadap wahyu.
وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
 
“Dan (janganlah) mengatakan atas nama Allah sesuatu yang tidak diketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)
Berbicara tentang agama tanpa ilmu bukan hanya keliru, tapi juga berbahaya. Bukan hanya menyesatkan orang lain, tapi juga menyesatkan diri sendiri.

Agama Dibawa ke Meja Politik

Tidak sedikit yang membawa ayat dan hadits untuk memenangkan agenda kelompok. Dalil dijadikan alat kampanye. Wahyu dijadikan bahan perebutan pengaruh. Seolah Tuhan berpihak pada satu kelompok saja. Akibatnya ? Umat jadi terbelah. Yang satu merasa paling benar. Yang lain dicap sesat. Yang berbeda dianggap musuh.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
 
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi kelompok-kelompok, engkau (Muhammad) tidak termasuk golongan mereka.” (QS. Al-An’am: 159)
Padahal agama datang untuk menyatukan. Kalau agama justru dijadikan alat perpecahan, itu berarti sudah jauh dari maksud wahyu.

Solusinya : Kembali ke Ilmu, Bukan Emosi

Agama tidak bisa dibawa dengan semangat saja. Harus dengan ilmu. Kalau tidak tahu, jangan berspekulasi. Tanyakan pada yang tahu. Belajar pada yang paham.
 
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
 
“Tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
 
Belajar agama harus dari orang yang jelas sanad keilmuannya. Bukan hanya yang lantang, bukan hanya yang viral. Tapi yang amanah dalam menyampaikan, dan tulus dalam membimbing.

Penutup

Agama bukan bendera kelompok. Wahyu bukan alat politik. Ayat dan hadits tidak diturunkan untuk menjadi peluru dalam perang opini. Jika agama terus dijadikan tameng kelompok, maka yang akan menang bukanlah kebenaran—melainkan ego. Sudah saatnya menjadikan agama sebagai cahaya, bukan alat. Sudah saatnya ayat-ayat suci dikembalikan pada tempatnya. Bukan dipotong untuk dibela, tapi dipahami untuk diamalkan. Pertanyaannya bukan siapa yang paling lantang mengutip dalil. Tapi siapa yang paling jujur menempatkan dalil pada tempatnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Qur'anic Enthusiast | FrontEnd & BeckEnd Enthusiast | SantriPreunur | LampungDev | ISciTech

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT
Ingin Usaha Undangan Digital ?

Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!

Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !