Memahami makna dan perbedaan tiga kata dalam judul tidak cukup hanya dengan satu atau dua kitab. Berbagai referensi menawarkan penjelasan berbeda, tergantung sudut pandang ulama, konteks Al-Qur’an, dan penggunaan sehari-hari. Untuk pemahaman yang lebih jelas, perlu kajian mendalam dengan membandingkan berbagai sumber. Pada tulisan kali ini, saya akan mengulas ketiga kata tersebut dengan referensi yang dimiliki:
Mari kita mengulik lebih jauh kata Thariiq (طَرِيْقٌ) artinya jalan, Thariq adalah isim yang mempunyai kata plural/Jamak (طُرُقٌ) menurut Kamus “Mu’jamul Mu’ashirah” mempunyai tiga makna yang berbeda, Pertama artinya Jalan/Rute lebih luas dari jalan kecil, bisa digunakan untuk lalu lintas kendaraan atau pejalan kaki. Kedua artinya Cara atau metode dalam mencapai sesuatu. Ketiga artinya Pendekatan atau ajaran khususnya dalam konteks tarekat sufi. Kata Thariiq sendiri terdapat 6 kali dalam Al-Quran seperti :Thaha:77, Thaha:63.
Berbeda dengan pengertian yang dibawa oleh Abu Qasim Al-Ashafahani dalam kitabnya Al-Mufrodat fii Ghariibil Quran mengatakan, kata Thariiq berasal dari, طَرْق (ṭarq) memang memiliki makna memukul atau mengetuk sesuatu, alat untuk memukul (المِطْرَقَة), Kata Tarq tidak seperti ضَرْب (darb) yang lebih umum dan bisa berarti memukul dengan keras atau sembarang pukulan, ṭarq lebih khusus, yaitu pukulan yang memiliki pola tertentu atau dilakukan dengan tujuan khusus. Lantas apa hubungan jalan dengan ketukan?
Hubungan kedua kata tersebut, Tarq berarti memukul secara berulang dan terarah, maka ṭarīq (jalan) secara etimologis berasal dari konsep jalan yang terbentuk akibat pijakan atau lintasan yang terus-menerus dilewati maka terbentuk dari pukulan atau tekanan berulang-ulang, baik oleh kaki manusia, hewan, atau kendaraan yang melewatinya.
Kata yang sering kita dengar dengan kalimat Jihad Fii Sabilillah dan Ibnu Sabiil salah satu kategori mustahik dalam zakat. Mari sekarang kita mengulik lebih jauh kata Sabiil (سَبِيْلٌ) artinya jalan, Sabiil adalah isim yang mempunyai kata plural/Jamak tidak hanya satu tapi beberapa kata yaitu (اسبل, اسبلة, سُبُلٌ). Menurut Kamus “Mu’jamul Mu’ashirah” mempunyai banyak sekali arti tergantung konteks kalimat yang disajikan. Seperti bermakna: Sebab atau perantara, Trik atau cara keluar dari sebuah masalah (Solusi), sumber air minum. Namun dalam kamus Ma’ajim Al-Arab mempunyai tambahan makna yaitu dalil atau bukti, kesulitan atau tekanan, Sebagai contoh. Kata Sabiil sendiri terdapat dalam Al-Quran 176 kali seperti :Al-Baqarah:108, Al-Baqarah: 154 dan masih banyak ayat lainnya.
Kata Shiroth (صراط) ) artinya jalan. Shiroth adalah isim yang mempunyai kata jamak/plural yaitu صُرُطٌ. Shiroth mempunyai arti seperti jalan, rute. Selain itu juga dinamankan sebagai jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam bagi orang yang beriman sesuai dengan amal perbuatan mereka. Kata Shiroth terkadang juga diindetikan dengan makna ajaran atau agama. Al-Quran mengabadikan kata tersebut 45 kali seperti dalam Surah Al-Fatihah:6, Al-Baqarah:142, Ali-Imran:51 dan ayat-ayat lainnya.
Dalam bahasa Arab, terdapat tiga kata yang sering digunakan untuk menggambarkan “jalan,” yaitu Ṭarīq (طَرِيق), Sabīl (سَبِيل), dan Ṣirāṭ (صِرَاط). Meskipun ketiganya memiliki makna dasar yang berkaitan dengan jalur atau rute, masing-masing memiliki makna dan penggunaan yang berbeda, terutama dalam Al-Qur’an. Lantas yang menjadi pembeda antara tiga kata tersebut? Abu Hilal Al-Askari dalam kitab “Mujamul Furuqul Lughah” mengatakan:
Baca Juga ;
https://semogabermanfaat.or.id/menelisik-perbedaan-madh-dan-tsanaa-kajian-kitab-klasik/
| Aspek | Thariiq | Sabiil | Shiroth |
| Makna | Jalan yang telah dilalui, bisa baik atau buruk. | Jalan yang mudah dan lapang, lebih sering bermakna kebaikan. | Jalan yang lurus, besar, dan benar |
| Penggunaan | Digunakan secara umum tanpa makna moral tertentu. | Sering digunakan dalam konteks jalan menuju Allah, tetapi bisa juga memiliki makna negatif jika ada tambahan keterangan. | Selalu digunakan untuk jalan kebenaran dan tidak pernah memiliki makna negatif. |
Semoga dengan tulisan ini, kita dapat semakin memahami perbedaan antaratiga kata, baik dari segi makna, penggunaan, maupun konteksnya dalam bahasa Arab. Dengan mengetahui perbedaan ini, kita bisa lebih tepat dalam menggunakan kata-kata tersebut sesuai dengan maksud yang diinginkan, terutama dalam kajian bahasa, sastra, maupun dalam memahami teks-teks keislaman.
Semoga ilmu ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita dalam memperkaya kosakata serta memperdalam pemahaman terhadap bahasa Arab. Wallahu A‘lam bish-Shawab, hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran.
Konten Kreator Edukasi bahasa Arab dan ilmu keislaman. Penulis dan Reviewer Buku. Pengajar Private Al-Quran dan Bahasa Arab. Pembicara Seminar tema kesantrian, kepemimpinan, Masuk Kampus dan Keislaman.
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !