“Mas Fadhlan, info dosen sudah datang belum? Kabari ya nanti kalau sudah ada, aku otw”. Ini salah satu pertanyaan yang sering muncul di chat kelas selama masa kuliah. Sepertinya pertanyaan ini sudah menjadi semacam tradisi turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meskipun bagi sebagian orang hal ini terkesan remeh, namun sebenarnya hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih.
Ada atau tidak adanya dosen, kita tetap harus berangkat, karena itu merupakan amanah untuk tetap hadir dan belajar sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tidak berangkat dan tidak masuk kelas itu berdosa, karena itu merupakan tanggung jawab yang diamanahkan oleh orang tua. Hal ini tidak hanya berlaku untuk mahasiswa, tetapi juga untuk setiap orang yang sedang menuntut ilmu (thalabul ilm).
Lebih baik menunggu seorang guru daripada kita yang justru ditunggu guru. Itulah tradisi yang benar dan patut dipertahankan. Hal sepele namun berdampak besar untuk setiap murid dalam proses belajar. Tradisi yang mengajarkan kita untuk lebih menghormati ilmu dan guru, serta mengutamakan kesabaran dan kedisiplinan dalam menuntut ilmu.
Sedikit kita menoleh kembali, perjuangan dan kegigihan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu dan bertalaqqi kepada para guru/syaikh. Mereka rela menempuh perjalanan panjang, menahan teriknya matahari, bahkan bertahan dalam kelaparan demi sebuah ilmu. Salah satu contoh yang sangat inspiratif adalah Imam Syafi’i, yang rela melanjutkan perjalanan ilmu dari Madinah dan menempuh perjalanan jauh ke Irak. Beliau memberikan nasehat yang sangat dalam: ‘Barang siapa yang tidak merasakan pahitnya belajar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya”.

Maka, apakah pantas dan perlu dipertahankan tradisi, ditunggu guru?? Jelas tidak jawabannya. Saya akan ringkas menjadi 4 alasan penting, kenapa kita harus menunggu guru daripada ditunggu guru dalam pembelajaran, yaitu :
Ada sebuah ibarat menarik yaitu “Sumur tidak akan mencari timba, timbalah yang mencari sumur”. Menegaskan bahwa seorang pelajar/murid harus yang lebih gigih dalam mencari dan menggali ilmu-ilmu yang dimiliki seorang guru.
Time Is Money, waktu adalah uang. الوقت أثمنُ من الذهب, Waktu lebih berharga daripada emas. 2 ungkapan yang menggambarkan bahwa waktu adalah aset penting setiap manusia bagi orang yang dapat menghargainya. Tidak ada waktu tambahan apalagi waktu yang dapat terulang kembali.
Tidak ada sebuah kesuksesan tanpa sebuah Kedisipinan. “Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out, with disciplin” artinya kesuksesan adalah jumlah dari usaha-usaha kecil yang dilakukan setiap hari dengan disiplin.
ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة. وقيل: الحرمة خير من الطاعة، ألا ترى أن الإنسان لا يكفر بالمعصية، وإنما يكفر باستخفافها، وبترك الحرمة. ومن تعظيم العلم تعظيم الأستاذ. (فصل فى تعظيم العلم وأهله).
Artinya : Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya. “Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah. (Ta’lim Muta’allim).
Semoga dengan tulisan singkat ini, dapat memberi insight baru tentang makna ditunggu atau menunggu guru. Terkhusus di zaman yang saat ini semua orang bisa berguru kepada siapapun dan dimanapun termasuk kecerdasan AI. Hal ini menarik untuk diulas di tulisan selanjutnya, apakah GPT termasuk guru dan patut dihormati layaknya kepada guru manusia?
Konten Kreator Edukasi bahasa Arab dan ilmu keislaman. Penulis dan Reviewer Buku. Pengajar Private Al-Quran dan Bahasa Arab. Pembicara Seminar tema kesantrian, kepemimpinan, Masuk Kampus dan Keislaman.
Kami Sediakan Paket Reseller Undangan Digital Untuk Anda Dengan Harga Super Murah !!!, Klik Mau dan Hubungi Admin !!!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !