Oleh: Ahmad Rofiqi Hasan
Kita sering kali menyalahkan diri kita “Kenapa harus lupa A, B, C dan D”. Bahkan sampai mengakui diri kita itu “bodoh” karena tidak bisa mengingat sesuatu. Coba baca ini dan renungkan.
Kita itu Tidak Bodoh
Lupa itu bukan berarti bodoh, dan lupa itu bukan tanda seseorang bodoh. Lupa adalah bagian normal dari cara kerja otak. Seorang yang cerdas, kita katakan Profesor justru pernah mengalami lupa. Lupa itu manusiawi, jangan kamu diskreditkan apalagi kamu seorang guru.
Lupa sesekali itu sesuatu yang normal, kita lupa detail nama alamat, nama teman dll karena saking banyaknya informasi yang di otak kita. Asal jangan lupa nama “istri” karena satu satunya. Hehe.
Kemampuan mengingat tidak sama dengan kecerdasan. Seseorang bisa cepat memahami konsep tetapi mudah lupa detail. Sebaliknya, seseorang bisa punya ingatan kuat tetapi belum tentu mampu menganalisis sesuatu dengan baik.
Jadi jangan katakan “aku bodoh” tapi katakan “Aku belum mengingatnya dengan baik.”
Selalu Ingat Justru Berbahaya
Sistem kerja otak manusia tidak seperti hardisk, memori. Ketika kita memasukan sebuah informasi, maka informasi itu akan terus ada sampai kita menghapusnya. Otak bekerja seperti editor dalam surat kabar, Setiap harinya otak memilah ribuan bahkan jutaan informasi yang masuk dalam otak kita. Otak bekerja seperti editor, dia memilih informasi mana yang lebih penting dan informasi mana yang harus dibuang.
Selalu ingat atau tidak pernah lupa, bisa menjadi bumerang bagi seseorang, coba bayangkan jika kita selalu ingat.
“Selalu ingat kesalahan orang lain” bisa membuat diri kita sulit untuk memaafkan
“Selalu ingat masa lalu dan luka”, bisa membuat diri kita tidak bisa bersyukur hari ini
“Selalu ingat kegagalan diri”, bisa membuat diri kita takut untuk mencoba lagi.
Maka, lupa bukan tanda seseorang itu lemah/otaknya tidak bekerja tetapi lupa adalah cara untuk menjaga kesehatan otak untuk terus berkerja.
Lupa dan Rahmat Tuhan
Dalam Al-Quran, Allah mengabadikan bahwa dalam surat Thaha: 115. Allah memberikan peringatan kepada Nabi Adam agar menjauhi Iblis. Namun, Adam lupa akan perjanjian itu dan terpengaruh bujuk rayu sehingga melanggar larangan-Nya.
Ada satu ayat dalam Al-Baqarah: 286 yang artinya “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.” Allah memberikan rahmatnya kepada orang yang lupa/khilaf saat berbuat.
Maka إِنَّمَا سُمِّيَ الْإِنْسَانُ إِنْسَانًا لِنِسْيَانِهِ artinya “Manusia disebut insān karena sifat lupanya”.
Lupa bukan selalu tentang kekurangan. Dalam batas tertentu, ia adalah bagian dari rahmat Allah kepada manusia. Kita mengingat agar kita belajar. Kita lupa agar bisa melanjutkan hidup untuk lebih tenang. So jangan lupa bersyukur untuk hari ini dan esok.
Konten Kreator Edukasi bahasa Arab dan ilmu keislaman. Penulis dan Reviewer Buku. Pengajar Private Al-Quran dan Bahasa Arab. Pembicara Seminar tema kesantrian, kepemimpinan, Masuk Kampus dan Keislaman.